Selasa, 15 Januari 2013

Resensi Bidadari-bidadari Surga

Diposkan oleh Niswatul Hamida di 17.29
Judul : Bidadari-bidadari Surga
Pengarang : Tere-Liye
Penerbit : Republika
Tahun terbit : 2008 (cetakan I), 2010 (cetakan VI)
Tebal buku : vi + 368 halaman
Ukuran buku : 20,5 x 13,5 cm

Sinopsis
Kak Laisa, seorang teladan dalam keluarga sudah terbiasa bekerja keras setelah babak (ayah)nya meninggal karena dimakan harimau Gunung Kendeng. Kak Lais, begitu ia dipanggil, memiliki keterbatasan fisik. Tubuhnya pendek (ketika dewasa hanya setinggi dada adik-adiknya), hitam, rambut kumal, dan gemuk serta dempal. Berbeda sekali dengan keempat adiknya yang tampan-tampan dan cantik. Ia mungkin tidak memiliki kecantikan fisik yang didambakan oleh setiap lelaki, tetapi ia memiliki kecantikan hati yang luar biasa yang mungkin sebetulnya lebih dibutuhkan oleh semua lelaki.
Kak Lais ingin adik-adiknya bisa tetap melanjutkan sekolah, sehingga ketika dia berada di kelas 4 SD ia meminta izin mamaknya agar berhenti sekolah saja dan membantu mamaknya bertani. Dengan ketekunannya bersama mamak, Kak Lais akhirnya bisa mencapai kesuksesan. Ia berhasil menanam dan memiliki ribuan hektar kebun strawberry yang belum pernah ditanam di Lembah Lahambay.
Adik-adik Kak Lais juga telah sukses. Dalimunte, adik yang tertua, telah menjadi seorang professor fisika yang terkenal di seluruh dunia. Ikanuri dan Wibisana, yang terlihat kembar padahal sebenarnya berbeda satu tahun, berhasil membangun bengkel mobil modifikasi dan akan membangun pabrik spare-part mobil sport. Sedangkan si bungsu Yashinta, dia sedang menyelesaikan S-2 di Belandan dan menjadi peneliti untuk konservasi ekologi.
Ketiga adiknya termasuk mudah dalam mendapatkan jodoh daripada Kak Lais. Karena Kak Lais bukan kakak kandung mereka, maka Kak Lais tidak memiliki kecantikan fisik seperti adiknya, Yashinta. Dalimunte, Ikanuri, dan Wibisana telah menikah dan memiliki anak. Sedangkan Yashinta belum mau menikah dengan orang yang dicintainya karena dia tidak tega melompati Kak Lais yang belum juga bertemu jodohnya.
Ketika kematian Kak Lais semakin mendekat yang disebabkan oleh kanker paru-paru stadium IV yang ia sembunyikan selama 10 tahun dari adik-adiknya, untuk yang pertama dan terakhir kalinya mengatakan bahwa ia membutuhkan adik-adiknya. Dengan segera adik-adiknya pulang ke Lembah Lahambay. Dan setelah seluruh adik-adiknya berada di sampingnya, Kak Lais akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dengan tersenyum. Dan hingga akhir hayatnya, Kak Lais tetap belum bertemu dengan jodohnya di bumi. Tapi, mamaknya yakin bahwa Kak Lais adalah seorang bidadari surge.
Kelebihan buku :
Buku ini sangat menyentuh dan inspiratif, ceritanya sangat menarik. Ceritanya diulas dengan sangat rinci dan seolah pembaca merasakan apa yang diceritakan oleh penulis.
Kelemahan Buku :
Menurut saya, kelemahan dari buku ini yang terasa sedikit janggal adalah mengenai sudut pandang penulis. Terdapat kerancuan pada penempatan posisi penulis dalam cerita ini.

Buku ini memang patut untuk dibaca karena dari buku ini kita bisa belajar banyak hal. Salah satunya tentang takdir Tuhan, bahwa hidup, jodoh, rezeki, dan mati adalah sepenuhnya milik Allah. Manusia hanya bisa berusaha semampunya dan berdo’a, tapi keputusan akhir tetap di tangan Allah.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Dunia Baca Niswa Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea